Pemerintah Hati-Hati Adopsi IFRS ke Industri Agriculture

Pemerintah memilih bersikap hati-hati dalam penerapan standar pelaporan akuntansi internasional atau International Fiancial Reporting Standards (IFRS) ke industri agriculture.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, penerapan pedoman standar akuntansi keuangan (PSAK), berjalan tidak mudah karena memiliki banyak kompleksitas seperti pernah terjadi di industri perbankan. “Kita sudah mengalami yang terberat, di sektor perbankan terjadi pada 2010, di situ permasalahannya sangat kompleks dan itu kita sudah melaluinya,” kata Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), Rosita Uli Sinaga saat jumpa pers di sela International Financial Reporting Standard Region Policy Forum, di Kuta, Senin (23/5/2011).

Selain itu, ada beberapa lagi industri yang cukup signifikan seperti asuransi yang diharapkan sudah bisa menerapkan standar pelaporan akuntansi keuangan pada 2012. Sementara untuk penarapan di industri agriculture, sambung Rosita, sampai saat ini belum bisa berjalan karena masih harus dilakukan pembahasan lebih mendalam. “Sampai saat ini dewan belum memutuskan apakah akan mengadopsi IFRS,” katanya menambahkan.

Dijelaskannya, untuk bisa mengadopsi standar tersebut ke industri agriculture, terlebih dahulu harus menghitung semua aset dengan “Fair Value”, sehingga hal itu memerlukan kehati-hatian. “Kami sungguh hati-hati untuk mengadopsi tersebut,” tegasnya dalam pertemuan yang dihadiri 300 delegasi dari 21 negara dan dibuka resmi Wakil Presiden Boediono.

Pihaknya optimis, jika standar tersebut akan bisa diterapkan perusahaan pemerintah dan swasta, terlebih Menteri BUMN telah mengakui dan cukup kooperatif, yang diharapkan bisa diimplementasikan pada tahun 2013 mendatang. “Hasilnya seperti apa akan kita lihat nanti,” ucapnya. Ia menambahkan, dari sisi pelaporan keuangan, banyak hal-hal yang tidak bisa dipotret secara lebih riil. Dicontohkan soal pinjaman yang oleh suatu bank, diberikan dengan suku bunga lima persen. Namun dengan sistem struktur bunga efektif interest rate yang memakai anuitas dan flat, ternyata bunganya macam-macam.

Dengan adanya standar pelaporan sekarang, maka suku bunga perbankan akan dilihat lebih pada substansinya. “Walaupun perbankan mengemasnya bagaimanapun, kalau kalau riilnya bunga misalnya 10 persen, maka harus dicatatkan 10 persen. Jadi riil bunganya akan dipotret sama,” imbuhnya.

 

by: trizulhijah.wordpress.com 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s